Kelompok
5 (BIOGRAFI)
NAMA
KELOMPOK :
1)
DEWILIA
PERTIWI (04)
2)
ERSA
NUR A. (07)
3)
LISELIA
RENA T. (11)
4)
NOVITASARI (16)
5)
SINTA
APRILIA (27)
6)
TIARA
ICHA AMELIA (31)
Taufiq
Ismail adalah seorang
sastrawan ternama di Indonesia. Taufiq lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat 25
Juni 1935. Ia tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Ia
telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Masa kanak-kanak sebelum
sekolah dilalui di Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo.
Selanjutnya, ia berpindah ke Semarang, Salatiga, dan menamatkan sekolah
rakyat di Yogya. Ia masuk SMP
di Bukittinggi, SMA di Bogor, dan kembali ke Pekalongan.
Biografi Taufiq Ismail
Pada tahun 1956–1957 ia memenangkan beasiswa American
Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High School di
Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia.
Taufik Ismail melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan,Universitas
Indonesia (sekarang IPB), dan
tamat pada tahun1963. Pada tahun 1971–1972 dan 1991–1992 ia mengikuti
International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, Amerika Serikat.
Ia juga belajar pada Faculty of Languange and Literature, American University
in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah Perang Teluk, Taufiq pulang ke
Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.
|
|
|
Taufiq
Ismail saat membacakan puisi
|
Semasa mahasiswa Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua Senat
Mahasiswa FKHP UI (1960–1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa
(1960–1962). Ia pernah mengajar sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis,
Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar Peternakan di Pesantren Darul Fallah,
Ciampea (1962), dan asisten dosen Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan,
Universitas Indonesia Bogor dan IPB (1961-1964). Karena menandatangani Manifes
Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim
untuk studi lanjutan ke Universitas Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun 1964.
Taufiq menjadi kolumnis Harian KAMI pada tahun 1966-1970. Kemudian, Taufiq bersama
Mochtar Lubis, P.K. Oyong, Zaini, dan Arief Budiman mendirikan Yayasan
Indonesia, yang kemudian juga melahirkan majalah sastra Horison (1966). Sampai
sekarang ini ia memimpin majalah itu.
Taufiq merupakan salah seorang pendiri Dewan Kesenian
Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Lembaga Pendidikan Kesenian
Jakarta (LPKJ) (1968). Di ketiga lembaga itu Taufiq mendapat berbagai tugas,
yaitu Sekretaris Pelaksana DKJ, Pj. Direktur TIM, dan Rektor LPKJ (1968–1978).
Setelah berhenti dari tugas itu, Taufiq bekerja di perusahaan swasta, sebagai
Manajer Hubungan Luar PT Unilever Indonesia (1978-1990).
|
|
|
Taufiq
Ismail saat menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia
|
Pada tahun 1993 Taufik diundang menjadi pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur,
Malaysia. Sebagai penyair, Taufiq telah
membacakan puisinya di berbagai tempat, baik di luar negeri maupun di dalam
negeri. Dalam setiap peristiwa yang bersejarah di Indonesia Taufiq selalu
tampil dengan membacakan puisi-puisinya, seperti jatuhnya Rezim Soeharto, peristiwa Trisakti,
dan peristiwa Pengeboman Bali.
Hasil
karya:
1.
Tirani, Birpen KAMI Pusat
(1966)
2.
Benteng, Litera ( 1966)
3.
Buku Tamu Musium Perjuangan,
Dewan Kesenian Jakarta (buklet baca puisi) (1972)
4.
Sajak Ladang Jagung, Pustaka
Jaya (1974)
5.
Kenalkan, Saya Hewan (sajak
anak-anak), Aries Lima (1976)
6.
Puisi-puisi Langit, Yayasan
Ananda (buklet baca puisi) (1990)
7.
Tirani dan Benteng, Yayasan
Ananda (cetak ulang gabungan) (1993)
8.
Prahara Budaya (bersama D.S.
Moeljanto), Mizan (1995)
9.
Ketika Kata Ketika Warna
(editor bersama Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabbar, Amri Yahya, dan Agus
Dermawan, antologi puisi 50 penyair dan repoduksi lukisan 50 pelukis, dua
bahasa, memperingati ulangtahun ke-50 RI), Yayasan Ananda (1995)
10.
Seulawah — Antologi Sastra
Aceh (editor bersama L.K. Ara dan Hasyim K.S.), Yayasan Nusantara bekerjasama
dengan Pemerintah Daerah Khusus Istimewa Aceh (1995)
11.
Malu (Aku) Jadi Orang
Indonesia, Yayasan Ananda (1998)
12.
Dari Fansuri ke Handayani
(editor bersama Hamid Jabbar, Herry Dim, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata,
Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar, antologi sastra
Indonesia dalam program SBSB 2001), Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2001)
13.
Horison Sastra Indonesia,
empat jilid meliputi Kitab Puisi (1), Kitab Cerita Pendek (2), Kitab Nukilan
Novel (3), dan Kitab Drama (4) (editor bersama Hamid Jabbar, Agus R. Sarjono,
Joni Ariadinata, Herry Dim, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan
Anwar, antologi sastra Indonesia dalam program SBSB 2000-2001,
Horison-Kakilangit-Ford Foundation (2002)
Karya
terjemahan:
§
Banjour Tristesse (terjemahan
novel karya Francoise Sagan, 1960)
§
Cerita tentang Atom
(terjemahan karya Mau Freeman, 1962)
§
Membangun Kembali Pikiran
Agama dalam Islam (dari buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam,
M. Iqbal (bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad), Tintamas (1964)
Atas kerja sama dengan
musisi sejak 1974, terutama dengan Himpunan Musik Bimbo (Hardjakusumah
bersaudara), Chrisye, Ian Antono, dan Ucok
Harahap, Taufiq telah menghasilkan sebanyak 75 lagu.
Ia pernah mewakili Indonesia baca puisi dan festival
sastra di 24 kota di Asia, Amerika, Australia, Eropa, dan Afrika sejak 1970.
Puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, Sunda, Bali, Inggris,
Prancis, Jerman, Rusia, dan Cina.
Kegiatan kemasyarakatan yang dilakukannnya, antara
lain menjadi pengurus perpustakaan PII, Pekalongan (1954-56), bersama S.N.
Ratmana merangkap sekretaris PII Cabang Pekalongan, Ketua Lembaga Kesenian Alam
Minangkabau (1984-86), Pendiri Badan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya (1985)
dan kini menjadi ketuanya, serta bekerja sama dengan badan beasiswa American
Field Service, AS menyelenggarakan pertukaran pelajar. Pada tahun 1974–1976 ia
terpilih sebagai anggota Dewan Penyantun Board of Trustees AFS International,
New York.
Ia juga membantu LSM
Geram (Gerakan Antimadat, pimpinan Sofyan Ali). Dalam kampanye antinarkoba ia
menulis puisi dan lirik lagu “Genderang Perang Melawan Narkoba” dan “Himne Anak
Muda Keluar dari Neraka” dan digubah Ian Antono). Dalam kegiatan itu, bersama
empat tokoh masyarakat lain, Taufiq mendapat penghargaan dari Presiden
Megawati (2002).
Kini Taufiq menjadi anggota Badan Pertimbangan Bahasa,
Pusat Bahasa dan konsultan Balai Pustaka, di samping aktif sebagai redaktur
senior majalah Horison.
Anugerah
yang diterima:
§
Anugerah Seni dari Pemerintah
RI (1970)
§
Cultural Visit Award dari
Pemerintah Australia (1977)
§
South East Asia (SEA) Write
Award dari Kerajaan Thailand (1994)
§
Penulisan Karya Sastra dari
Pusat Bahasa (1994)
§
Sastrawan Nusantara dari
Negeri Johor, Malaysia (1999)
§
Doctor honoris causa dari
Universitas Negeri Yogyakarta (2003)
Taufiq Ismail menikah dengan Esiyati
Yatim pada tahun 1971 dan
dikaruniai seorang anak laki-laki, Bram
Ismail. Bersama keluarga ia tinggal di Jalan Utan Kayu Raya 66-E, Jakarta 13120.
Reorientasi
Taufiq Ismail lahir di Bukittinggi, 25
Juni 1935. Masa kanak-kanak sebelum sekolah dilalui di Pekalongan. Ia pertama
masuk sekolah rakyat di Solo. Selanjutnya, ia berpindah ke Semarang, Salatiga,
dan menamatkan sekolah rakyat di Yogya. Ia masuk SMP di Bukittinggi, SMA di
Bogor, dan kembali ke Pekalongan. Pada tahun 1956–1957 ia memenangkan beasiswa
American Field Service Interntional School guna mengikuti Whitefish Bay High
School di Milwaukee, Wisconsin, AS, angkatan pertama dari Indonesia Ia
melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas
Indonesia (sekarang IPB), dan tamat pada tahun1963.
Pada tahun 1971–1972
dan 1991–1992 ia mengikuti International Writing Program, University of Iowa,
Iowa City, Amerika Serikat. Ia juga belajar pada Faculty of Languange and
Literature, American University in Cairo, Mesir, pada tahun 1993. Karena pecah
Perang Teluk, Taufiq pulang ke Indonesia sebelum selesai studi bahasanya.
Semasa mahasiswa
Taufiq Ismail aktif dalam berbagai kegiatan. Tercatat, ia pernah menjadi Ketua
Senat Mahasiswa FKHP UI (1960–1961) dan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa
(1960–1962).
Ia pernah mengajar
sebagai guru bahasa di SMA Regina Pacis, Bogor (1963-1965), guru Ilmu Pengantar
Peternakan di Pesantren Darul Fallah, Ciampea (1962), dan asisten dosen
Manajemen Peternakan Fakultas Peternakan, Universitas Indonesia Bogor dan IPB
(1961-1964). Karena menandatangani Manifes Kebudayaan, yang dinyatakan terlarang
oleh Presiden Soekarno, ia batal dikirim untuk studi lanjutan ke Universitas
Kentucky dan Florida. Ia kemudian dipecat sebagai pegawai negeri pada tahun
1964.
POLA PENYAJIAN
ALUR :
Campuran
SUDUT
PANDANG : Orang ketiga serbatahu
GAYA
PENULISAN : Deskriptif naratif
FOKUS :
Seorang penulis karya sastra dari pusat bahasa, seorang sastrawan nusantara,
doctor honoris causa dari universitas negeri yogyakarta.