Kelompok 3
Nama Anggota : 1. Devi novita sari
2.
Emi eka puspita sari
3. Fanesa anggreani
4. Intan nirmala sari
5. Novita Romania
6. Sandra ayu nurfalah
7. Suci setyaningrum
Chairil Anwar

Nama Lengkap
: Chairil Anwar
Tanggal Lahir
: 26 Juli 1922
Tempat Lahir
: Medan, Indonesia
Pekerjaan
: Penyair
Kebangsaan
: Indonesia
Orang
tua : Toeloes (ayah) dan Saleha (ibu)
Orientasi
Biografi
Chairil Anwar
Chairil
Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922. Ia merupakan anak
tunggal dari pasangan Toeloes dan Saleha, ayahnya berasal dari Taeh Baruah.
Ayahnya pernah menjabat sebagai Bupati Kabupaten Inderagiri, Riau. Sedangkan
ibunya berasal dari Situjug, Limapuluh Kota Ia masih punya pertalian kerabat
dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.
Chairil
Anwar adalah seorang penyair yang berasal dari Indonesia. Chairil Anwar mulai
terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di Majalah Nisan pada
tahun 1942, saat itu ia baru berusia 20 tahun. Ia juga dikenal sebagai “Si
Binatang Jalang” dalam karya-nya, yaitu "Aku". Ia telah menulis sebanyak 94 karya, termasuk
70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin
sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.
Peristiwa Penting
Chairil
Anwar bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk
orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan
pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah
pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai menulis
puisi ketika remaja, tetapi tidak satupun puisi yang berhasil ia buat yang
sesuai dengan keinginannya.
Meskipun
ia tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, tetapi ia tidak membuang waktunya
sia-sia, ia mengisi waktunya dengan membaca karya-karya pengarang Internasional
ternama, seperti : Rainer Maria Rike, W.H. Auden, Archibald Macleish, Hendrik
Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Ia juga menguasai beberapa bahasa
asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman.
Pada
saat berusia 19 tahun, ia pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) bersama dengan
ibunya pada tahun 1940 dimana ia mulai kenal dan serius menggeluti dunia
sastra. Puisi pertama yang telah ia publikasikan, yaitu pada tahun 1942.
Chairil terus menulis berbagai puisi. Puisinya memiliki berbagai macam tema,
mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme. Selain
nenek, ibu adalah wanita yang paling Chairil cinta. Ia bahkan terbiasa menyebut
nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu.
Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa
puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Nama
Chairil Anwar mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di
“Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia berusia dua puluh tahun.
Namun, saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di "Majalah
Pandji" untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu
individualistis. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.
Puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di
Indonesia yang tidak diterbitkan hingga tahun 1945.
yang
Terampas dan yang Putus (1949); Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir
(1950 bersama Seniman Pelopor Angkatan 45 Asrul Sani dan Rivai Apin), Aku Ini
Binatang Jalang (1986), Koleksi sajak 1942-1949", diedit oleh Pamusuk
Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986); Derai-derai Cemara
(1998). Buku kumpulan puisinya diterbitkan Gramedia berjudul Aku ini Binatang
Jalang (1986).
Karya-karya
terjemahannya adalah: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948, Andre Gide); Kena
Gempur (1951, John Steinbeck). Karya-karyanya yang diterjemahkan ke dalam
bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol antara lain “Sharp gravel, Indonesian
poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960); “Cuatro poemas
indonesios, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca,
1962); Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New
York, New Directions, 1963); “Only Dust: Three Modern Indonesian Poets”, oleh
Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969).
Ketika
menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta kepada Sri Ayati
tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk
mengungkapkannya. Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja
pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa,
namun karena masalah kesulitan ekonomi, mereka berdua akhirnya bercerai pada
akhir tahun 1948.
Reorientasi
Vitalitas
puitis Chairil tidak pernah diimbangi dengan kondisi fisiknya. Sebelum
menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil meninggal
dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto
Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28 April 1949, penyebab kematiannya tidak
diketahui pasti. Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet
Bivak, Jakarta. Menurut catatan rumah sakit tersebut, ia dirawat karena tifus.
Meskipun demikian, ia sebenarnya sudah lama menderita penyakit paru-paru dan
infeksi yang menyebabkan dirinya makin lemah, sehingga timbullah penyakit usus
yang membawa kematian dirinya yakni ususnya pecah. Tapi, menjelang akhir
hayatnya ia menggigau karena tinggi panas badannya, dan di saat dia insaf akan
dirinya dia mengucap, "Tuhanku, Tuhanku...".
Makamnya
diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari masa ke masa. Hari meninggalnya juga
selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Kritikus sastra Indonesia asal
Belanda, A. Teeuw menyebutkan bahwa "Chairil telah menyadari akan mati muda,
seperti tema menyerah yang terdapat dalam puisi berjudul Jang Terampas Dan Jang
Putus".
Alur :
Maju
Sudut
pandang : orang kedua
Gaya
penulisan : Deskrptif narative
Fokus : Karya-karya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar